Kamis, 27 Januari 2011

Garuda VS Beringin


Judul itulah yang kira-kira bisa melukiskan apa yang sedang terjadi di tubuh organisasi sepakbola di Indonesia (PSSI) sekarang ini.Sang ketua (Nurdin Halid) yang asalnya dari "Pohon Beringin" terlihat ingin meneruskan keberadaan "Dinasti Beringin" di PSSI,yang walaupun sudah banyak diprotes sana sini tapi tetap saja,seperti kata pepatah : khalifah berdakwah anjing berlalu. :p

Masalahnya,sepakbola itu bukanlah hanya milik mereka,sepakbola itu milik SELURUH RAKYAT INDONESIA.Tapi orang-orang di PSSI tampaknya "agak mirip" dengan anggota DPR,yaitu status mereka yang KATANYA "Perwakilan Rakyat" tapi ternyata mereka TIDAK mewakili rakyat Indonesia,melainkan mewakili "sebuah golongan" yang tampaknya kebanyakan adalah "golongan beringin".

Hal tersebut membuat "suara hati" rakyat (suporter) dan "suara hati -> (yg diragukan keberadaannya) " oknum PSSI menjadi sangat berbeda.

Perbedaan memang sudah jelas,yang satu mewakili "Garuda" dan yang satu mewakili "Beringin".
"Garuda" sudah jelas mencerminkan sebuah burung yang gagah,perkasa,dan luar biasa.Oleh sebab itulah didadanya dia membawa "perisai pancasila" dan dijadikan lambang negara Indonesia (yang akhirnya juga menggantikan lambang PSSI di jersey TimNas).

Sedangkan "Beringin" yang katanya mencerminkan sebagai "Pohon Peneduh".Tetapi ternyata pada kehidupan nyata,kebanyakan orang biasanya lebih memilih pohon lain dan menjadikan "Beringin" sebagai tempat terakhir untuk berteduh.Hal ini tak lepas dari kesan lain dari pohon "Beringin",yaitu "Pohon Angker".Dimana kebanyakan orang beranggapan "Beringin" adalah pohon favorit setan yang sering menjadi "markas setan".

Oleh sebab itu,janganlah kita heran dengan berbagai macam hal keanehan yang terjadi di PSSI.Hal tersebut wajar,karena ternyata Ketua PSSI sendiri berasal dari "Beringin",yang biasanya menjadi "markas setan",jadi tidak menutup kemungkinan Ketua PSSI kita juga adalah "setan".

Berikut mungkin adalah sekilas gambaran dari "suara hati" antara "Garuda" dan "Beringin" yang "serupa tapi tak sama" (tapi maknanya kontras)

Suara Hati Rakyat (Suporter) :
Garuda di dadaku,
garuda kebanggaanku.
Kuyakin hari ini pasti menang

Suara Hati Nurdin "Beringin" (PSSI) :
Beringin di dadaku,
beringin kebanggaanku.
Kuyakin pas pemilu pasti menang.

 

Selasa, 11 Januari 2011

Sebuah Catatan Tim Garuda Di Piala AFF 2010

Ironis,sebuah kata yang tampaknya tepat untuk menggambarkan banyak keadaan di negeri Indonesia ini.Negeri yang sempat dijuluki "Macan Asia" ini,tampaknya sedang menjadi "Kucing Tidur".Banyaknya kesenjangan dijarak dan waktu yang dekat,banyaknya "keanehan" pada banyak "kasus-kasus" yang terjadi dihampir segala bidang,baik itu politik,ekonomi,sosial,budaya,bahkan di bidang olahraga (yang harusnya menjunjung tinggi SPORTIVITAS) bisa membuktikan itu semua.

Bukti nyata terakhir adalah penampilan Timnas Garuda kita di ajang piala AFF.Tampil diluar ekspektasi banyak pihak,dengan luar biasa meraih poin sempurna dibabak penyisihan grup.laga pertama vs Malaysia,"tetangga" kita tersebut diganyang 5-1,meskipun timnas sempat tertinggal lebih dulu.di laga kedua,tim kuda hitam,Laos pun dibantai 6 gol tanpa balas,dan dipertandingan terakhir (yang meskipun sudah tak menentukan nasib timnas),yaitu melawan tim yang sudah sekian tahun jarang kita kalahkan,Thailand.Timnas Garuda menunjukkan mental juara,tertinggal 1 gol lebih dahulu,namun 2 gol penalty dari Bambang Pamungkas akhirnya mampu membuat nasib Bryan Robson (Pelatih Thailand) terancam dipecat,karena timnya gagal lolos ke semifinal.Dengan poin 9,dan selisih +11 gol ( 13-2 ),wajar bila banyak masyarakat yang percaya,inilah saatnya Indonesia Juara.Tim Garuda maju ke semifinal didampingi Malaysia yang berhasil memperbaiki penampilan.

Namun,menjelang semifinal, tampaknya mulai banyak pihak yang "mengganggu" persiapan timnas.Untunglah disemifinal,Indonesia diuntungkan karena sang lawan,Filipina tak bisa menggelar pertandingan kandang,akhirnya pertandingan kandang-tandang pun dilakukan di GBK,yang berakhir dengan agregat 2-0 untuk Indonesia,2 gol dari pemain "asing",Christian Gonzales membawa Tim Garuda ke final,Harapan menjadi juara semakin membuncah,apalagi ketika tahu,bahwa timnas akan bertemu kembali dengan tim yang pertama kali diganyang di babak penyisihan 5-1,yang secara mengejutkan mengalahkan juara bertahan Vietnam dengan agregat 2-0.

Namun,menjelang final,banyak pihak2 yang mulai ingin "mengganggu" timnas,dari media hingga politisi,yang kalau ditelisik,media dan politisi tersebut dekat dengan sang ketua PSSI,Nurdin Halid.caranya mulai dari wawancara sampai Istighosah,dimana acara2 tersebut tidak termasuk agenda timnas,akibatnya jadwal latihan yang sudah disusun Alfred Riedl (pelatih timnas) pun berantakan.Puncaknya,saat timnas berangkat tandang ke Bukit Djalil,Malaysia.Timnas yang tadinya terbang menggunakan pesawat carteran,ternyata dialihkan menggunakan pesawat milik sang politisi.Belum cukup sampai disitu,ternyata dalam pesawat tersebut banyak "penumpang gelap" diluar pemain dan offisial timnas,yaitu wartawan,pejabat,dan orang2 dekat Nurdin.Jadi dengan adanya hal2 demikian,ditambah perlakuan kurang baik Malaysia (telat jemput,sinar laser,bubuk gatal),wajarlah apabila timnas kita diganyang balik dengan skor 3-0 disana,dimana butuh keajaiban untuk bisa membalik keadaan.

Kembali ke Tanah Air,pendukung dan rakyat Indonesia masih percaya bahwa kita masih bisa juara,hal itu dibuktikan dengan perjuangan mereka yang LUAR BIASA dalam mendapatkan tiket pertandingan,yang padahal penjualannya SUPER AMBURADUL,karena PSSI yang tak pernah belajar dari pengalaman,sok tau,sok bisa,dan "pelit" untuk membayar EO untuk memudahkan penjualan tiket kepada suporter.

Adanya "Lautan Merah" di Stadion GBK,akhirnya melecut semangat para punggawa Garuda,sangat terlihat mereka berjuang mati-matian dilapangan untuk meraih kemenangan bahkan juara (berbeda dengan Nurdin Halid yang berjuang mati-matian mempertahankan posisinya),hal itu dibuktikan,meskipun Malaysia memainkan sepakbola bertahan,pragmatis,cendrung negatif dan kita tertinggal lebih dulu,para pemain tetap semangat hingga akhirnya memenangkan pertandingan 2-1.Tapi hasil itu tentu saja tak cukup untuk menjadi juara.Akhirnya kita harus "dipaksa rela" melihat Malaysia mengangkat Trofi di GBK.Untunglah suporter kita sudah "dewasa",sampai akhir pertandingan hampir tak ada aksi balas dendam dengan laser apalagi rusuh.

Tim Garuda memang menang,apalagi dilihat dari statistik turnamen,kita adalah yang paling unggul,menang 6 kali,dan hanya kalah sekali di final,dengan selisih gol 11 (17-6) .Namun,sekali lagi,itu semua belum cukup untuk juara.Meskipun begitu,saya yakin Timnas kita sudah mampu menjadi "juara" di hati Rakyat Indonesia.

Senin, 10 Januari 2011

Perubahan

Perubahan,sebuah kata yang selalu terdengar "sulit".dikatakan sulit karena terkadang,meskipun kita tahu bahwa kita harus berubah,tetapi kita tak mau dan mungkin tak akan pernah mau untuk berubah,atau tak tahu dan mungkin tak akan pernah tahu cara untuk berubah.

Mengapa hal itu terjadi?Karena kita takut,kita takut pada resiko yang akan terjadi pada diri kita apabila kita melakukan perubahan tersebut,kita takut perubahan tersebut hanya akan membuat diri kita menjadi lebih buruk.hal itu karena kita terbiasa pesimis dan su'udzon (buruk sangka),meskipun pada diri kita sendiri.

Ataukah kita belum siap atau belum bisa berubah?hal itu sebenarnya hanyalah beberapa sugesti dari dalam diri kita sendiri yang menandakan bahwa, diri kita sebenarnya masih "terikat" dan "tergoda" pada hal-hal "buruk" pada diri kita yang seharusnya kita ubah.hal itu juga menunjukkan bahwa kita BELUM MAU berubah,bukannya BELUM BISA.

Ataukah kita yang tidak tahu bagaimana cara untuk berubah? Jika memang itu penyebabnya,cobalah untuk lebih "membuka" mata,hati,dan telinga. untuk melihat,membaca,bertanya,ataupun mendengar tentang "how to change" dari mana pun asalkan baik.dengan melakukan hal-hal tersebut,niscaya kita akan tahu bahwa banyak cara yang bisa kita lakukan untuk merubah diri kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Karena pada intinya,hanya kitalah yang sebenarnya BISA memegang kendali pada diri kita,kitalah yang tau apa yang harus dilakukan pada diri kita,kitalah yang tahu apa yang terbaik untuk diri kita.