Ironis,sebuah kata yang tampaknya tepat untuk menggambarkan banyak keadaan di negeri Indonesia ini.Negeri yang sempat dijuluki "Macan Asia" ini,tampaknya sedang menjadi "Kucing Tidur".Banyaknya kesenjangan dijarak dan waktu yang dekat,banyaknya "keanehan" pada banyak "kasus-kasus" yang terjadi dihampir segala bidang,baik itu politik,ekonomi,sosial,budaya,bahkan di bidang olahraga (yang harusnya menjunjung tinggi SPORTIVITAS) bisa membuktikan itu semua.
Bukti nyata terakhir adalah penampilan Timnas Garuda kita di ajang piala AFF.Tampil diluar ekspektasi banyak pihak,dengan luar biasa meraih poin sempurna dibabak penyisihan grup.laga pertama vs Malaysia,"tetangga" kita tersebut diganyang 5-1,meskipun timnas sempat tertinggal lebih dulu.di laga kedua,tim kuda hitam,Laos pun dibantai 6 gol tanpa balas,dan dipertandingan terakhir (yang meskipun sudah tak menentukan nasib timnas),yaitu melawan tim yang sudah sekian tahun jarang kita kalahkan,Thailand.Timnas Garuda menunjukkan mental juara,tertinggal 1 gol lebih dahulu,namun 2 gol penalty dari Bambang Pamungkas akhirnya mampu membuat nasib Bryan Robson (Pelatih Thailand) terancam dipecat,karena timnya gagal lolos ke semifinal.Dengan poin 9,dan selisih +11 gol ( 13-2 ),wajar bila banyak masyarakat yang percaya,inilah saatnya Indonesia Juara.Tim Garuda maju ke semifinal didampingi Malaysia yang berhasil memperbaiki penampilan.
Namun,menjelang semifinal, tampaknya mulai banyak pihak yang "mengganggu" persiapan timnas.Untunglah disemifinal,Indonesia diuntungkan karena sang lawan,Filipina tak bisa menggelar pertandingan kandang,akhirnya pertandingan kandang-tandang pun dilakukan di GBK,yang berakhir dengan agregat 2-0 untuk Indonesia,2 gol dari pemain "asing",Christian Gonzales membawa Tim Garuda ke final,Harapan menjadi juara semakin membuncah,apalagi ketika tahu,bahwa timnas akan bertemu kembali dengan tim yang pertama kali diganyang di babak penyisihan 5-1,yang secara mengejutkan mengalahkan juara bertahan Vietnam dengan agregat 2-0.
Namun,menjelang final,banyak pihak2 yang mulai ingin "mengganggu" timnas,dari media hingga politisi,yang kalau ditelisik,media dan politisi tersebut dekat dengan sang ketua PSSI,Nurdin Halid.caranya mulai dari wawancara sampai Istighosah,dimana acara2 tersebut tidak termasuk agenda timnas,akibatnya jadwal latihan yang sudah disusun Alfred Riedl (pelatih timnas) pun berantakan.Puncaknya,saat timnas berangkat tandang ke Bukit Djalil,Malaysia.Timnas yang tadinya terbang menggunakan pesawat carteran,ternyata dialihkan menggunakan pesawat milik sang politisi.Belum cukup sampai disitu,ternyata dalam pesawat tersebut banyak "penumpang gelap" diluar pemain dan offisial timnas,yaitu wartawan,pejabat,dan orang2 dekat Nurdin.Jadi dengan adanya hal2 demikian,ditambah perlakuan kurang baik Malaysia (telat jemput,sinar laser,bubuk gatal),wajarlah apabila timnas kita diganyang balik dengan skor 3-0 disana,dimana butuh keajaiban untuk bisa membalik keadaan.
Kembali ke Tanah Air,pendukung dan rakyat Indonesia masih percaya bahwa kita masih bisa juara,hal itu dibuktikan dengan perjuangan mereka yang LUAR BIASA dalam mendapatkan tiket pertandingan,yang padahal penjualannya SUPER AMBURADUL,karena PSSI yang tak pernah belajar dari pengalaman,sok tau,sok bisa,dan "pelit" untuk membayar EO untuk memudahkan penjualan tiket kepada suporter.
Adanya "Lautan Merah" di Stadion GBK,akhirnya melecut semangat para punggawa Garuda,sangat terlihat mereka berjuang mati-matian dilapangan untuk meraih kemenangan bahkan juara (berbeda dengan Nurdin Halid yang berjuang mati-matian mempertahankan posisinya),hal itu dibuktikan,meskipun Malaysia memainkan sepakbola bertahan,pragmatis,cendrung negatif dan kita tertinggal lebih dulu,para pemain tetap semangat hingga akhirnya memenangkan pertandingan 2-1.Tapi hasil itu tentu saja tak cukup untuk menjadi juara.Akhirnya kita harus "dipaksa rela" melihat Malaysia mengangkat Trofi di GBK.Untunglah suporter kita sudah "dewasa",sampai akhir pertandingan hampir tak ada aksi balas dendam dengan laser apalagi rusuh.
Tim Garuda memang menang,apalagi dilihat dari statistik turnamen,kita adalah yang paling unggul,menang 6 kali,dan hanya kalah sekali di final,dengan selisih gol 11 (17-6) .Namun,sekali lagi,itu semua belum cukup untuk juara.Meskipun begitu,saya yakin Timnas kita sudah mampu menjadi "juara" di hati Rakyat Indonesia.